Suatu ketika ada seorang lelaki yang menginginkan tatto gambar singa di
punggungnya. Ia lalu pergi ke tukang tatto yang paling hebat, dan
mengemukakan maksudnya. Ia lalu memilih sebuah gambar singa yang tampak
sangat gagah.
Kemudian tukang tatto itu mulai bekerja. Tetapi segera setelah merasakan
beberapa tusukan jarum tatto, lelaki itu mengerang kesakitan, "Engkau mau
membunuhku?! Bagian mana yang sedang kau gambar?"
"Aku baru mengerjakan bagian ekornya," jawab tukang tatto itu.
"Kalau begitu, hapus saja ekornya. Biarlah gambar singa itu tanpa ekor,"
teriak lelaki itu.
Kemudian tukang tatto itu bekerja lagi. Dan lagi-lagi si lelaki itu tak
tahan merasakan sakitnya tusukan jarum. Ia lalu menjerit, "Wadow, sakit
sekali. Bagian mana yang sedang kau gambar kali ini?"
"Kali ini," jawab tukang tatto itu, "adalah bagian telinga singa."
"Tinggalkan saja bagian itu. Biarkan gambar singaku tanpa telinga," katanya sambil
terengah-engah.
Maka, tukang tatto itu mencoba lagi dengan hati-hati. Tetapi segera saja,
setelah jarum menusuk kulitnya, lelaki itu menggeliat lagi. "Sekarang
katakan, bagian mana yang sedang buat?"
"Ini adalah perut singa," kata tukang tatto itu dengan putus asa.
"Aku tak mau singa dengan perut!" teriak lelaki itu.
Dengan perasaan jengkel tukang tatto itu berdiri sebentar, lalu membuang
jarum dan berteriak, "Seekor singa tanpa ekor, tanpa kepala, tanpa perut?
Siapa yang bisa menggambar singa seperti itu? Bahkan Tuhan pun tidak!"
Kita takkan pernah jadi singa, si raja rimba, bila takut pada panasnya gurun pasir.
Kita takkan pernah jadi elang, si raja langit, bila gentar pada gamangnya ketinggian.
Maka kita pun takkan menjadi apa-apa bila takut pada apa-apa.
(Idries Shah, The Way of Sufi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar